Dan hari pun jatuh kembali. Pagi hari dengan cuaca dingin. Aku tergeragap oleh mimpi buruk. Seseorang tak yang kukenal mendatangiku dengan wajah muram dan wilayah-wilayah aneh bercampur antara homeland, homless dan landscape kota. Melirik pada jam digital pada handphone, kuraih, dan kucari-cari dengan penuh kesulitan karena kepala masih demikian pening. kemarin adalah hari dimana aku terbaring saja oleh flu yang berat. Pilek tanpa henti dan tak bisa bergerak kecuali berguling-guling seperti kecoa yang tertelungkup. Lalu aku teringat Metamorfosanya Franz kafka? Mungkinkah aku telah menjadi kecoa besar itu? Tidur pada tikar tipis dengan selimut hanya selembar kain sarung. Aku tergeragap. Sudah pukul 9!
Monitor pada ruangan berbendar dan desing CPU masih nyala semalaman.
“Kopi” pikirku! Membayangkan secangkir kopi kental panas, hitam saja membuat aku bisa bangkit. Beranjak dari tempat tidur dan menyambar cerek kecil! Hey, tapi tapi dimana korek api kecil sialan itu? Pasti semalam teman-temanku telah mengambilnya. Mereka telah mengobrak-abrik ruanganku serupa para bajak laut tinggal menyisakan sisa-sisa perhelatan, abu-abu rokok, apa di ruangan 4 x 6, piring-piring kosong, gelas-gelas dengan montase ampas kopi, kertas-kertas yang berhamburan. Setidaknya aku masih mengingat ini ruanganku sendiri. penjaraku sendiri untuk beberapa waktu sebelum aku harus terusir lagi di pinggiran jalan.
Toh akhirnya aku harus pergi keluar juga. Merogoh kantung-kantung celana dan menemu beberap lembar ribuan, koin-koin murahan warna gold, dan ah…. secarik memo! Masalah-masalah yang ringan kembali berhamburan lewat secari memo yang kutemukan!
“Ingat besuk jam 2 rapat begini begitu, bicara begitu beginu bla-bla bla…. semoga kau lekas sembuh! good dame you….!
Akhirnya setelah sedikit interaksi dengan warung kecil dekat rumahku, ditanganku kini terpegang korek kecil, sebungkus kopi Mocca kapal api, dan susu putih bendera. Aku biasa membuat ramuan kopi susuku sendiri. Hmmm, membayangkan kopi kental pahit dengan sedikit lumuran susu didalamnya jantungku mulai berdesir.
Kompor dan cerek kecil kunyalakan. cukuplah untuk dua cangkir kopi panas! lima menit dan dan kutunggu dengan menghadap pendaran komputer di depan kamar. Email-email yang menumpuk!
“Hey aku menemukanmu lagi- teman lama yang sedang patah hati? Teman lama yang sibuk dengan editing-editing berita dalam kolom surat kabar pagi?
Tentang teman lama yang sedang patah hati itu aku balas emailnya, sedikit kurami dengan suggest warna-warni dan sebuah lirik Sting ” Brand New Day’s”:
Love is pain I hear you say, Love is a cruel and bitter way of
Paying you back for all the faith you ever had in your brain
How could it be that what you need the most
Can leave you feeling just like a ghost?
You never want to feel so sad and lost again
Demikianlah! aku juga harus memulai hariku. Bersambut dan berkirim kabar dengan kawan-kawan dan kekasih kekasih tersembunyi, memasang senyum topeng pada tetangga-tetangga yang cerewet, membungkus rencana-rencana dalam tas bekalku, menghirup kopi hitam kental lagi….
Yups, now the water turn to hot! Pick one cup of coffe!, Turn the radio on! Swinging on the day! Your Brand New Day!