Skip to content

gie

…ku akan menaklukan malam dengan jalan pikiranku… (gie- eros candra)

Pada daun-daun ketepeng yang berjatuhan satu-satu itu mengingatkannya pada lembar catatan hariannya yang telah lusuh, kecoklatan dan hampir satu demi satu berlepasan pada penjilidan.
“Akh’ aku belum ingin menggantinya!”
Ini pagi yang luar biasa. ribuan detik yang lalu, matanya hampir tidak bisa memicing, bergeser tubuh dari satu posisi ke posisi yang lain, miring ke kiri, miring ke kanan, mendekap bantal, menekuk kedua kaki sampai tengkurap, tetapi tetap saja tubuhnya seperti tak mau bersikap tenang untuk waktu yang lama. Pada kamar 4 x4 itu ia merasa tersekap, udara malam sedari tadi telah menusuk-nusuknya dengan kelembaban dan dingin. Tak ada yang bisa mencegahnya malam itu untuk meluapkan pikiran-pikirannya pada sebuah buku catatan yang tergeletak terbuka di atas meja kecil.
Maka iapun berjalan kesana, dengan gerak cepat, seperti tak ingin diketahui siapapun, seperti kucing. Saat itu ingin ia tuliskan apa yang telah menggumpal dalam pikirannya. Tapi saat ia telah meraih gagang pena, tangan itu hanya berhenti.

Rock My Plimsoul

‘Cause you know what, when you shake, rattle, and roll me, My old back ain’t got a bone…Jeff beck

Menu pagi ini adalah secangkir teh dengan sedikit gula, seperti biasanya. Sudah sejak subuh, perempuan tua itu bangun dari ranjang besi yang diselimuti dengan kasur kapuk tua, sprei dari dari susunan kain-kain, bantal dan buntalan-buntalan pakain tua. Sementara di sampingnya, seorang laki-laki tua yang telah menemaninya bertahun-tahun, Hampir-hampir ia sudah tidak ingat lagi kapan laki-laki tua itu pernah menjadi muda. Di pikirannya kini hanya terlintas sesaat; sesosok laki-laki muda tentara KNIL, dengan celana komprang, baju hem, dan topi di Kepal. Jantungnya berdegub kencang, saat pemuda itu menghampirinya, mengulurkan tanganya yang kekar dan menayakan namanya. Ia bisa merasakan telapak tangan pemuda itu yang kasar karena sering memegang senjata dan kini telah menggengam dengan gemetaran telapak tangannya.
Itu sudah berpuluh tahun dari saat ia kini menyibakkan kelambu sebagai pengusir nyamuk, meninggalkan sosok laki-laki tua keriput yang masih mendengkur dengan pulas. Suara dengkur laki-laki tua itu kasar, kadangkala disertai batuk-batuk. Sudah berulangkali perempuan tua itu mengingatkan sosok laki-laki tua itu untuk mengenakan kaos kaki, mengusapi dadanya dengan minyak tawon dan menaruh syal pada leher.
“Udara malam sangat buruk bagi kaum tua macam kita”
Pagi itu adalah rutinitas, menyibakkan kelambu, mencuci muka, sholat shubuh lalu pergi ke dapur, menyusun kayu-kayu bakar, menanak nasi, mendidihkan air untuk membuat teh….
Pagi adalah dua gelas teh dengan sedikit gula dan sebuah teko alumunium tua. Teko alumunium tua itu telah menyimpan kerak teh yang mengendap selama berpuluh-puluh tahun, seperti pula endapan percakapan antara sepasang kakek dan nenek itu.
“Teh nya, Kek”, kata perempuan tua itu. Ia sudah tidak ingat lagi, kapan ia mengubah panggilannya untuk pertama kali. Mungkin semenjak cucu pertama mereka lahir, atau semenjak anak bungsunya telah berkeluarga, menetap di Banten, mendapatkan momongan dan berkunjung dalam suasana lebaran.
Hmm, pagi ini, sebuah radio transistor tua dinyalakannnya. Jalur AM dengan irama-irama lagu Indonesia pop, selembar koran bekas yang diambilnya dari tetangga, dan dua gelas teh yang mengepul-kepul

iris

And you can’t fight the tears that ain’t coming /Or the moment of truth in your lies/ When everything feels like the movies/ Yeah, you bleed just to know you’re alive,… by goo goo dolls

Ada yang diam-diam mengintipmu dari belakang. Kadang-kadang kau merasakan kehadirannya lewat bahasa angin yang bertiup dan menapik dengan lembut pipi kirimu. Kau tak menyadarinya saat ia sebenarnya telah menyentuhmu. Membisikkan sesuatu dan terkadang ikut menimpali pembicaraanmu dengan seorang laki-laki yang mengenalmu selama 3 tahun lebih. Terkadang iapun turut menangis saat kau menceritakan pada kawanmu (laki-laki kecil dengan rambut gondrong, alis mata tebal, pipi dengan bekas jerawat yang mengering dan dua sorot mata yang letih), tentang kesulitan-kesulitan hidupmu. Tentang masa kecilmu yang menyenangkan pada ; ladang-ladang daun teh yang wangi, lentik kupu-kupu, belalang yang berloncatan dan aroma keringat pekerja pemetik teh. Juga kerinduanmu pada kampung halaman, sebuah mobil hartob tua, ternak-ternak yang berkerjaran, aroma kota tua madiun dengan jelujur rel-rel kereta dan pohon beringin tua di alun-alun. Di sana waktu berhenti selaksa wajah kakekmu yang selalu sama seperti saat pertama kau mengetahuinya.

Kadang-kadang ia mendekat pada jarak 3 langkah dibelakangmu, seperti pada saat ini

Man on The Moon

If you believed they put a man on the moon,…REM

Sudah berhari-hari ia mengurung diri dalam kamarnya. Hampir tak keluar sama sekali kecuali untuk sekedar makan dan ke kamar mandi. Sebuah jendela menghadap keutara pada landscape perkampungan dengan atap-atap yang tak beraturan, kadang-kadang jendela itu terbuka dan terlihatlah laki-laki menyembul, mendongakkan kepala dan moncong hidungnya, menghirup udara di sekitarnya dalam-dalam. Ia lakukan itu lama sekali seperti ingin ia hirup seluruh aroma di sekitarnya. Tetapi setelahnya jendela itu tertutup kembali dan entah apa yang dilakukan laki-laki itu di dalam kamarnya.

Orang-orang tak begitu peduli padanya, hanya saja saat ia mulai demikian sering membuka jendela, mendongakkan muka dan hidunya pada jendela itu dan mulai menghirup udara dalam-dalam, mulai semenjak itulah orang-orang menggunjingkan. Tetapi meskipun orang-orang di dekatnya menyapa dengan rasa penasaran ia tak acuh tak acuh dan masih melongokkan moncong hidungnya menghirup udara dalam-dalam

There is a Light That Never Goes Out

And if a double-decker bus, Crashes into us, To die by your side, Is such a heavenly way to die , (Morrisey, the Smith)

Telah kembali dari sebuah pulau terpencil, Karimunjawa. Kembali pada hidup yang melelahkan, rutinitas, bangun, bekerja, makan, mandi dan mengemuka pada kotak monitor komputer yang berpendar tanpa henti. Sudah dua pekan ini dan sebagian keinginanku masih tertambat pada kehidupan lain jauh puluhan kilometer dari sini pada sebuah tempat bernama Karimunjawa.
Ini pertanyaan melankolik; sampai kapan kau bisa melupakan dirinya?”
Sesegera mungkin! Bangsat!
Kembali mengendari motor pada aspal jalan kota Yog. Gedung-gedung yang dipenuhi debu, warna-warni cat dan gilap tembaga, kerlap-kerlip lampu, orang-orang yang pasang senyum atau sapaan ;”Hey apa kabarmu, apa acaramu?”
Ach! jangan bagunkan aku pada dari tidurku malam ini. Malam yang buruk dengan mimpi-mimpi aneh suara-suara yang bising yang memekakkan telinga. Aku tak ingin terbangun pada ruangan ini lagi–ruangan kotak persegi dengan dinding-dinding dipenuhi centang perentang properti, kotak komputer yang selalu berbendar, aroma kopi….

“There’s the light that never goes out….”

Devil in her heart

She’s got the devil in her heart/ But the eyes tell me the lie…
I’ll take my chance/ for romance is so importance to me… by the beatles

Aku duduk lagi menatap layar monitor 18 inch yang berpendar itu. Membuka-buka privat folder-ku, berkas-berkas dan gambar-gambar yang berada di situ. Kadangkala aku masih merasa takjub dengan tampilan-tampilan icon pada komputer itu. Rasa kantuk mulai memberatkan kedua biji mataku. Ingin copot, tetapi imsomnia sepertinya telah menjadi bagian dari malam-malamku. Ah betapa nikmatnya tidur nyenyak di sebuah ruangan dengan springbed, udara hangat dan perut kenyang! Aku merasakan asam lambung dalam perutku menggerus-gerus seperti makhluk-makhluk kelaparan. Di meja komputer hanya sisa setengah gelas teh manis. Celakanya, tak ada makanan tersisa di dapur, hanya remah-remah pada bungkus yang berceceran sisa perhelatan sore tadi dan piring-piring kotor. Besok pagi akan ada “perang” besar jikakalau piring-piring itu dibiarkan begitu saja. Seingatku sisa piring bersih tinggal satu! Perempuan-perempuan itu akan bangun lebih pagi dan mulai mengomel tentang kemalasan kaum laki-laki. Kemudian seperti biasa, kami kaum laki-laki merasa “cuek saja”, menutup telinga dengan gumam di dalam hati atau seakan-akan membayangkan tentang ‘burung yang berkicau di pagi hari yang cerah’.

Dini hari ini aku hanya mengenakan celana pendek dari jeans belel yang kupotong. Seingatku, tiga tahun lampau celana jeans belel yang kupotong itu pernah menjadi celana favoritku. Seberapa lamakah celana jeans belel itu akan bertahan menemaniku? Udara demikian dingin, terasa benar mengalir pada kedua paha kakiku yang tak tertutupi itu. Dua orang temanku telah tidur di meeting room dengan gelaran tikar. Televisi masih berpendaran menyala, lamat-lamat terdengar siaran berita; perang masih berkobar di mana-mana, Israel mulai melanggar gencatan senjata, banjir Lumpur di Sidoarjo, bantuan pemerintah korban gempa yang tidak turun-turun, mayat korban mutilasi, bayi yang berkepala dua, longsor di semarang, balap sepeda di jawa timur, carok madura….. tiba-tiba saja kepala terasa akan meledak.

Dingin kian menusuk, suara-suara mulai melemah, semakin mendekati hening. Hanya desing propeller komputer, tuts-tuts keyboard dan desis televise yang telah habis siaran. Aku melangkah ke lorong kamar lain yang hanya temaram satu neon lampu, mematikan kotak televsi yang mendesis itu dengan kesal! Tak ada remote kontrol yang bisa mengendalikan kakiku tuk berjalan sendiri pikirku, Dalam keheningan dini hari ini, suara langkahku terdengar mendegup pada lantai. Dua orang temanku telah tidur dengan nyaman. Mereka memasukkan dirinya dalam buntalan-buntalan selimut. Benar-benar malam yang dingin.

“Hey, mengapa aku belum juga beranjak tidur?”

***
Tidak ada konteknya aku untuk mengingatmu jahanam! Ada iblis dalam hatimu dan dua buah sorot mata lemah lunglai yang menipu! Tetapi meski tak ada remote kontrol kedua kakiku kini melangkah lagi pada pendar layar monitor, mulai dengan reflek membuka Opera web browser dan sebuah kolom mail yahoo.
‘you’ve got 24 mail!”
tengah malam ini aku tak mau membuka 24 email itu dengan buru-buru, tetapi sebuah remote kontrol telah membimbing mata, tangan dan pikiranku pada mail boxs yang telah di flag, ditandai sebuah histori bahwa flag email itu telah dibuka berkali-kali.
Aku hanya ingin membaca sekali lagi surat elektronik darimu dan sebuah signature mail yang unik dari dirimu, fotograph tentang sebuah masa yang indah dan masa muda yang terabadikan. Aku menemukan kembali dua sorot mata yang berkaca-kaca itu.
dan… mulai terkekeh-kekeh lagi pada slide demi slide peristiwa, menjadi biasa dan menjadi sesuatu kesimpulan; kalau seperti ini lagi aku ingin dibohongi, dikhiniati kau berkali-kali.
Panggil aku seorang machokis; untuk sebuah cambukan kesakitan yang kau buat berkali-kali….

Iblis dalam hatimu masih mengendap, dari embrio tumbuh jadi sebongkah makhluk yang laten, siapa sangka suatu hari makhluk itu menjelma dirimu kembali

I love my dog

I love my dog as much as I love u/ But you may fade, my dog will always come through. // All he asks from me is the food to give him strength/All he ever needs is love and that he knows hell get… by cat steven

“Selamat pagi dunia yang berkarat”, ia mengucapkannya lagi, kali ini bukan hanya pada seekor anjing kecil yang mengibas-ibaskan ekornya dan berpuar—putar mengelilingi kaki laki-laki itu, tetapi juga pada tumpukan kertas, buku, secangkir kopi yang telah dingin, jendela yang terbuka, dinding yang beku, lantai dengan lapisan karpet plastik, langit-langit dengan pojok yang dipenuhi jalinan sarang laba-laba, lampu kamar 10 watt yang masih menyala, udara dingin, jam dinding yang menunjuk angka 6.40, sebuah photograph dengan foto bergambar empat orang bersaudara, sapatu hitam butut, puntung-puntung rokok pada asbak dengan debu yang berloncatan, kasur busa tipis yang tak lagi menggelembung, dua buah bantal lusuh dan tentu sebuah buku catatan mimpi yang terbuka di atas meja.
Ia merangkum itu semua dalam benak kepala. Masih utuh. Anjing kecil itu menyalak. Lapar. Minta makan. Sementara sebuah piring kecil tempat segala macam campuran makanan anjing kecil itu telah kosong mlompong dengan meninggalkan bekas gigitan dan jilatan yang kecoklatan, juga bau khas sisa makanan yang memenuhi kamar. Ia ingin membuang anjing kecil itu. Tak memerlukannya lagi, apalagi karena ia merasa risih saat anjing kecil itu berputar-putar melingkar di kakinya seperti tak peduli diapun berasa lapar seketika itu. Tapi ia lagi-lagi melihat dua buah mata yang bersinar dan sedikit berlinang pada anjing kecil itu. Ia tak tega. Dua buah mata biru yang membuat ia selalu gagal berniat membuang anjing kecil itu. Sayang, kalau lebih dirawat, anjing kecil itu akan lebih terlihat hebat. Ia pernah melatih anjing kecil itu untuk membelikannya rokok di warung. Tapi tetangga-tetangga tidak suka anjing. Anak-anak kecil melemparinya dengan batu hingga suatu ketika ia temukan anjing kecilnya yang bermata biru bulat itu kakinya pincang. Ia merawatnya sampai berhari-hari sebelum akhirnya kaki itu sembuh.

Born to be wild

Like a true nature’s child/ We were born, born to be wild / We can climb so high /I never wanna die

Yeah… mendaki diantara tebing-tebing tinggi, aku Zaject dan seorang bangladesh berkulit hitam. Kita bertiga saja saat masuk melalui celah rimbun pepohonan perdu dan gerimis yang mulai membutakan jalan masuk kami. Bergidik dengan malam dan celoteh-celoteh aneh. Hmm, bagi ceritamu kawan, ini kita bertiga adalah sesaat kawan yang aneh, pertemuan yang aneh dan hanya sekali saja, lantas usai.
Lantas usai karena sehabis ini, kita akan berpencar ke negeri masing-masing, sementara aku tetapkan untuk menanamkan hatiku disini. Bagi rokokmu kawan, dan seteguk wiskey polandia, hmmm cuaca yang menyenangkan dan puncak perjalanan kita, memandang sekeliling sebagai sebuah dunia antah berantah, kecil, berlapis kabut dan peradaban penuh kerlap-kerlip lampu. Kita bisa saja mati disini, dan kaupun berkata :
“Suatu hari saat kita selamat sampai ke kotak rumah masih-masing, kita akan mengenangnya sebagai peristiwa yang tak akan pernah terulah lagi, mungkin”
Dan kita lanjutkan meneguk wiskey Polandia lagi. Kita mereguk bersama-sama dan tertawa dengan guyonan yang sebenarnya tak pernah kita benar-benar pahami. Tapi kita sunggung bahagia dengan kejanggalan-kejanggalan dan berbedaan; Zajeck, kurus tinggi, hampir setengah meter melebihi kepalaku, Gazi, pendek hitam gemuk dengan logat ingris khas pelataran India, sedang aku tepat berdiri dianataranya, tipikal asli suku jawa.
Fuiihhh, kita menyebut pertemanan ini, Crazy group. Crazy one adalah Gazi, yang bermalas-malasan dan selalu berkeluh kesah untuk sampai ke puncak dan selalu berkata ; “Papaku akan marah-marah kalau dia mengetahuinya’, sedang Zajeck, adalah Polandia girang, gemar bercerita banyak hal dan antusias. Aku ditengah-tengahnya, serupa medium, si eropa, dan asia, dan JAwa totok tulen dengan english terbata-bata. We are such a wiird generation…..

Get Together

Get Together by The Young Blood

Love is but a song to sing/ Fear’s the way we die/You can make the mountains ring/Or make the angels cry/Though the bird is on the wing/And you may not know why

Sudah lama tak mengunjengukmu wahai kawan kecilku. Perjumpaan yang terakhir hanyalah sebuah perjumpaan singkat saat kau menunggu bis kota, jalanan padat dan orang-orang dengan muka aneh. Saat itu kota kita bergerak pada pertengahan musim kemarau dengan kerongkongan yang tercekat dan kau seperti mengipa karena ditempeleng panas udara.
Kasihan kau wahai teman kecilku, seandainya saat iku aku tidak tengah terjebak dalam arus jalan raya yang bergerak tanpa ampun, ingin rasanya aku berhenti, menyapa dan melanjutkan dengan sebuah percakapan dan kelakar-kelakar lama.

Mr. Tambourine Man

Though you might hear laughing, spinning, swinging madly across the sun,/ It’s not aimed at anyone, /It’s just escaping on the run,/ And but for the sky there are no fences facing… Bob dyland

Sebuah gitar pada kamar telah berhenti dimainkan. Ia lalu hanya tergolek saja di ranjang menyatu bersama gumpalan-gumpalan kasur dan bantal. Langit-langit yang telah kotor semenjak lama dengan sudut-sudut menjadi sarang laba-laba. Kalau hujan tiba, pada bercak-bercak di langit-langit itulah air merembes masuk, menitik sedikit demi sedikit menjadi melodi pada nampan yang ia letakkan di bawahnya. Ia hanya membayangkan saja apa yang ia bisa tentang hujan. karena sudah beberapa bulan, ini kemarau membuat udara siang panas bertuba.

If You Want Sing, Sing Out

And if you want to be me, be me And if you want to be you, be you ‘Cause there’s a million things to do You know that there are .. cat steven

Elizabeth My dear

Tear me apart and boil my bones/ I’ll not rest till She’s lost Her throne
My aim is true/ My message is clear
It’s curtains for you/ Elizabeth my dear, by stone roses

Ini pagi hari menggigil sendiri. Bulan agustus kemarau panjang yang akan kulalui sampai akhir tahun. Sudah pukul 7pagi tapi cahaya matahari tak juga bisa menghangatkan tubuhku. Jogja makin keparat katamu, pada suatu sabtu malam di depan kantor Pos. Kamu menggigil dalam selimut jilbab dan kacamata yang lusuh. Baru pulang dari Jakarta, dan aku balas dengan ketawa ; seminggu berselang aku di JAkarta dan “Jakarta makin keparat kataku, karena udara panas yang bertuba, bahkan pada malam hari aku bisa dengan leluasa membuka baju-karena gerah. Juga nyamuk-nyamuk jakarta yang keparat yang tak tahan hanya dengan sebuah anti-mosquito semacam Purbasari atau liquid Baygon.
Kau menikmati, walau hanya sebatas semalam kotaku yang kupetakan tanpa pernah selesai ini. Bahkan kau berencana untuk; bisa ngak kau carikan aku tempat buat bikin kafe atau mini resto dengan kelap-kelip lampu dan live musik akustik tiada henti?” Ah rupanya kau tak ubahnya mereka, orang-orang membangun lantai demi lantai emas di atas kotaku yang tak pernah menolak untuk dijajah.
Lalu bisakah kau temukan keramahan begini sepuluh tahun kedepan? Kerumunan keramahan orang-orang tua bersepeda Onthel, anak-anak muda dekil dengan gitar di tangan atau ukulele atau para penjual angkringan yang dengan gampang menyapamu dan menanyakan apa kabar kehidupanmu di sana?

Street of Philadelpia

Oh brother are you gonna leave me wastin’ away, on the Streets of Philadelphia…
Ain’t no angel gonna greet me..It’s just you and I my friend….

Telah dua bulan semenjak kepulanganmu ke Warsawa. Pada perjumpaan terakhir di stasiun saat kereta api pelan-pelan mulai bergerak, gemeretak kau kau mengatakan; Maafkan aku temanku kalau tak ada waktu untuk sekedar menyambangimu di kemuidian hari”.
Hampir benar apa yang kau bilang, saat keretamu bergerak ditelan landscape ujung keretaku, mengecil pada jalur lurus kaku dan bentangan kabel kabel telepon, dan beberapa orang yang masih berdiri di pingggiran rel, saat itulah tak ada harapan lagi untuk bertemu lagi.
Kita tidak ingin mencatat sejarah, tetapi setidaknya suatu ketika mungkin kita bisa bercerita kepada anak-anak-kecil tentang dua karib yang berteriak dan mengatakan ; we are the most creziest friends in the world!”

Day’s is Done–Nick Drake

When the day is done, Down to earth then sinks the sun, Along with everything that was lost and won…. Day’s is done By Nick Drake.

Selamat malam kawan-kawanku! membayangkan engkau telah terpejam, terbujur pada peraduan masing-masing dan berapa juta percintaan terjadi pada detik segini?

“Saat hari telah lengkap, jatuh ke bumi dan tenggelamnya matahari, sepanjang yang ada adalah yang menang dan yang kalah….”

Ini adalah saat yang nikmat untuk memejamkan mataku. Saat ribuan pasir menggambur dalam mataku. Aku mencoba melawan dengan merenggut sisa gelas kopi.
“Bah, kopimu telah membeku!”
“Kerjakan PRmu, Lamban!”, katamu dengan menggeram.
Lihat Nona, aku masih mengutak-atik desktopku. Masih berusaha mengutak-atik layout dan gambar, croping sana croping sini, mutilasi sana-mutilasi sini, mengubah ubah tone dan pallet.
My_desktop

One cup of coffé

….I’ll cause you no more sorrow:
One cup of coffee, then I’ll go…….on cup of coffe by bob marley

Yup’s. kutuang serbuk kopi pada cangkir. Kalau ada Kopi kapal api mocca, kental dengan sedikit krim dan minim gula. Sang coffe lover memulai ritual ini dengan teliti. Sebuah cerek kecil pada kompor masih belum mendidik sepenuhnya. Kali ini cerek kecil itu cukup diisi separoh saja karena ia hanya seorang diri.
Kuseruput tubuh si kental coklat itu. Aromanya mulai bergerak dari rongga hidung menuju ruang-ruang di kepala. Ini kopi sudah menjadi candu bagiku. Ndak tahu semenjak kapan ia telah menjadi bagian terapi pagi. Untung aku bukan terlalu perokok berat! Kata orang-orang pintar itu, rokok lebih berbahaya daripada kafein. 50mg kafein is enough for u everyday, untuk sekedar membuat jantungmu berdegup agak kencang dan memperterang jalan pikiran. Saya juga dengar pula testi orang-orang yang cofee haters! yang bilang, kopi justru bikin ngantuk lah, bikin tulang keropos lah, tau lah.

Biar kureguk sisa kopi terakhir, lalu aku akan hengkang pergi….

You and me

What day is it, And in what month
This clock never seemed so alive, I can?t keep up and I can?t back down
I?ve been losing so much time…. lifehouse

Aku kini yang menjadi laki-laki pemalas. Huh. Aku berkilah tentang cuaca yang tak bersahabat dan banyakanya persoalan yang menumpuk–untuk sekedar membuka catatan mengenai janji denganmu, membuka pintu dan menstarter motorku, berangkat menuju bangunan tua tempat aku melakukan aksi tipu-tipu bahwa aku seseorang yang bersemangat, idealis, penuh visi dan tak kenal lelah. Tapi di sini aku serupa siput yang merayap dengan pelan pada dinding berlumut. Sementara ukuran waktu, ah persetan dengan waktu, jam dinding, jam karet–toh itu hanya takaran manusia.

crash into me

Hike up your skirt a little more and show your world to me
In a boys dream… In a boys dream ….

Ini mulut mulai hanya diam tanpa kata-kata. Terkadang yang muncul tak terkendali, terkadang seperti rangkaian puisi tapi menipu.

Kawan lama, aku menemukan dirimu lagi pada dunia yang lain. Gila! kita bertemu pada kolom-kolom blog ini dan tak terbayang lima tahun lampau saat aku kau kita menggelandang di jalan-jalan di tengah malam hanya untuk sekedar mendengarkan gumaman-gumaman sendiri. Soliluqui, katamu, lebih baik dari pada dibilang seorang gila.

Friends will be friends

Friends will be friends
When you’re through with life and all hope is lost
Hold out your hands cos friends will be friends right till the end… fredy mercury

Pagi diantara ruangan kotak persegi, sempit dengan dinding hijau dan lantai semen hitam yang dingin dan sebuah ranjang kecil dengan meja rak buku dan radio compo FM stereo. Dia adalah Karibku yang telah mencomotku dari kehidupan homeless, broken home seorang keluarga dengan ayah yang tengah gila perempuan, dan kakek-nenek yang konservatif. Ia telah membuka kaca nako raybeen hitam menyibakkan kain korden dan menyalakan radio compo FM stereo, mengubah dari satu saluran ke saluran lain sebelum akhirnya memasang kaset Greenday. Ia mulai berjingkrak, bertegur sapa sesaat tentang ; apakah yang kau impikan semalam kawanku? Dan mengatur siasat kecil tentang gadis-gadis yang kami bicarakan semalam. Di luar kamar kotak persegi dengan dinding hijau, keluarga yang aku inangi itu telah sibuk. dengan kerja dan tingkah masing masing Sang Bapak memulai harinya dengan joging kecil dengan kostum celana training, kaos oblong, dan handuk kecil di leher. Aku selalu tersenyum melihat perut tambum dan kepala botak. Ia adalah seorang dosen dan semenjak itu dikepalaku mulai mengidentikkan seorang dosen tulen dengan perawakan dan ciri-ciri itu. Bapak karibku itulah yang disuatu sore yang hangat, telah menepuk-nepuk punggukku, mengijinkanku untuk menempati kamar persegi bekas kamar salah satu anaknya itu.
Melewati tiap pagi itu serasa janggal menjadi suasana yang biasa; barang-barang kecil telah di atur oleh dua orang seorang pembantu rumah tangga, makan siang dan sarapan yang selalu tersedia, komputer dengan program masih windows 3.11 dan corel 5! dan bau ruangan yang aneh. Terkadang kakak-kakakku pulang dan mengatakan tentang kehebatan masa mereka muda tempo dulu, perkelahian-demi perkelahian menjadi biasa dan kamar persegi berdinding hijau itu menjadi tempat berkumpul karib-karib itu.
Karibku begitu terobsesi pada Greenday yang tengah populer, potongan rambut skin head, pakaian seragam serba dombrang . Tapi aku dan karibku selalu mengeluh tentang sulitnya kami bereksplorasi dengan style seragam SMU, karena sekolah kami yang ndeso, kolot, sok disipin dan bla-bla-bla….
Aku jadi teringat seolah SMU Abeedeen Curt Cobain– sebuah Kota kecil yang tak mempunyai keistimewaan apa-apa selain berisi para penebang kayu dan pekerja tambang.
Selama setahun itu pula, aku menjadi bayang-bayangmu, karibku, menjadi bagian dari makan pagi di meja makan keluargamu dengan lauk yang selalu sama; nasi hangat, gudeg, telur, kerupuk dan gorengan. Lalu kita berangkat ke sekolah yang kau caci sebagai sekolah yang “ndeso” itu bersama-sama. Melaju keluar dari lorong belakang IAIN dan kuburan-kuburan yang selalu mengingatkanku pada cerita-ceritamu tentang orang-orang yang melihat hantu. Hei masihkah kau menyimpan ingatan tentang Honda ceper dengan bak ramping dan cat warna biru muda itu?
Karibku, kami pernah dewasa bersama dalam ruangan kotak persegi berdinding hijau lumut. kami pernah harus besihtehgang pada seorang pembantu baru yang dengan risih menyisihkan “celana” ku yang tertinggal pada kolong ranjang. kami pernah melompat bersamadari pagar sekolah untuk sekedar bolos merokok, merekam cover persahabatan kita pada seribu lembar kalender sekolah tahun 1997–itu sesuatu kebetulan paling lucu pada persahabatan kami

She’s in fashion

Aku lihat kau lagi di saluran internet dengan wajah yang berbeda, busana yang berbeda tetapi masih dengan sorot mata yang sama. Sorot mata yang kalau kutatap lekat-lekat selalu mengigatkanku pada sebuah perjumpaan di sebuah tebing gunung dengan diorama orang-orang kampung, suasana perbukitan, sayur-mayur, pokok-pokok buah-buahan, pohon-pohon cemara pada ketinggian 1500 m diatas permukaan laut dan kicauan berbagai suara burung. Aku mengenalmu seketika itu sebagai seseorang yang datang dari peradaban yang sama. Kita sempat merekam pertemuan itu pada sebuah photograph, melipatnya dalam dunia digital, mempostingnya ke karib dan kita sendiri dan berujar “kita pernah menjejak kawasan ini”.

Lalu kita sama-sama menghilang pada selimut kesibukan kita masing-masing. Menjumpai perjumpaan-perjumpaan kita yang lain, mengenakan busana-busana yang lain, mengulang-ulang percakapan dan menghimpun siasat-siasat baru. Tapi aku tahu kita tak pernah sama-sama menyerah! Ini masih belum seberapa dari hari paling berat yang pernah kita lalui.

She’s employed where the sun don’t set and she’s the shape of a cigarette, And she’s the shake of a tambourine and she’s the colour of a magazine, And she’s in fashion and she’s in fashion …….

“Hey, sepopular itukah dirimu kini?”–sebuah poster, background senja yang berangin, short & black hair, girly, sepatu kets, short pants pada kaki yang ramping, dan sepasang mata besar hitam bulat! Sebuah pose yang lain dari pose-pose yang pernah kurekam dan kukumpulkan dalam kantung imajinasiku.

Brand new day

Dan hari pun jatuh kembali. Pagi hari dengan cuaca dingin. Aku tergeragap oleh mimpi buruk. Seseorang tak yang kukenal mendatangiku dengan wajah muram dan wilayah-wilayah aneh bercampur antara homeland, homless dan landscape kota. Melirik pada jam digital pada handphone, kuraih, dan kucari-cari dengan penuh kesulitan karena kepala masih demikian pening. kemarin adalah hari dimana aku terbaring saja oleh flu yang berat. Pilek tanpa henti dan tak bisa bergerak kecuali berguling-guling seperti kecoa yang tertelungkup. Lalu aku teringat Metamorfosanya Franz kafka? Mungkinkah aku telah menjadi kecoa besar itu? Tidur pada tikar tipis dengan selimut hanya selembar kain sarung. Aku tergeragap. Sudah pukul 9!
Monitor pada ruangan berbendar dan desing CPU masih nyala semalaman.
“Kopi” pikirku! Membayangkan secangkir kopi kental panas, hitam saja membuat aku bisa bangkit. Beranjak dari tempat tidur dan menyambar cerek kecil! Hey, tapi tapi dimana korek api kecil sialan itu? Pasti semalam teman-temanku telah mengambilnya. Mereka telah mengobrak-abrik ruanganku serupa para bajak laut tinggal menyisakan sisa-sisa perhelatan, abu-abu rokok, apa di ruangan 4 x 6, piring-piring kosong, gelas-gelas dengan montase ampas kopi, kertas-kertas yang berhamburan. Setidaknya aku masih mengingat ini ruanganku sendiri. penjaraku sendiri untuk beberapa waktu sebelum aku harus terusir lagi di pinggiran jalan.

Toh akhirnya aku harus pergi keluar juga. Merogoh kantung-kantung celana dan menemu beberap lembar ribuan, koin-koin murahan warna gold, dan ah…. secarik memo! Masalah-masalah yang ringan kembali berhamburan lewat secari memo yang kutemukan!

“Ingat besuk jam 2 rapat begini begitu, bicara begitu beginu bla-bla bla…. semoga kau lekas sembuh! good dame you….!

Akhirnya setelah sedikit interaksi dengan warung kecil dekat rumahku, ditanganku kini terpegang korek kecil, sebungkus kopi Mocca kapal api, dan susu putih bendera. Aku biasa membuat ramuan kopi susuku sendiri. Hmmm, membayangkan kopi kental pahit dengan sedikit lumuran susu didalamnya jantungku mulai berdesir.

Kompor dan cerek kecil kunyalakan. cukuplah untuk dua cangkir kopi panas! lima menit dan dan kutunggu dengan menghadap pendaran komputer di depan kamar. Email-email yang menumpuk!

“Hey aku menemukanmu lagi- teman lama yang sedang patah hati? Teman lama yang sibuk dengan editing-editing berita dalam kolom surat kabar pagi?

Tentang teman lama yang sedang patah hati itu aku balas emailnya, sedikit kurami dengan suggest warna-warni dan sebuah lirik Sting ” Brand New Day’s”:

Love is pain I hear you say, Love is a cruel and bitter way of
Paying you back for all the faith you ever had in your brain
How could it be that what you need the most
Can leave you feeling just like a ghost?
You never want to feel so sad and lost again

Demikianlah! aku juga harus memulai hariku. Bersambut dan berkirim kabar dengan kawan-kawan dan kekasih kekasih tersembunyi, memasang senyum topeng pada tetangga-tetangga yang cerewet, membungkus rencana-rencana dalam tas bekalku, menghirup kopi hitam kental lagi….

Yups, now the water turn to hot! Pick one cup of coffe!, Turn the radio on! Swinging on the day! Your Brand New Day!