Sunrise like a nosebleed / Your head hurts and you can’t breathe / How far you gonna go? / Before you lose your way back home / You’ve been tryin’ to throw your arms / Around the world.. Bono, U2
Hanya sejauh pintu kau melangkah, itupun masih satu depa lagi sebelum tanganmu bisa meraih gagang pintu itu. Ada rasa yang berkecamuk pada dirimu, serupa badai, sebagian dirimu adalah perasaan pengecut ‘ sebaiknya aku urung diri saja! membalikkan langkah kakiku dan menjauh menuju jalan setapak itu dan melupakan hari ini sebagai ‘hari yang buruk untuk diingat’
Tapi sebagian dari dirimu adalah dorongan untuk berani. Apalagi, kesempatan mungkin tak datang dua kali. Bahkan kau sudah melangkah sampai sejauh ini. Sudah melewati gerbang yang berpagar besi pada rumah itu dan tinggal sedepa lagi agar tanganmu bisa meraih gagang pintu itu atau mengetuknya.
Pintu kayu yang tertutup rapat. Kau hanya bisa membayangkan ada seseorang yang kau cari disana, mungkin tengah menunggumu atau mungkin tengah menunggu ketukan pintu dari seseorang yang kau kenal.
‘Hmmm, apakah aku perlu mengintipnya dulu dari sebuah celah sempit kunci pintu itu?”
“Perbuatan tolol’, katamu sendiri
“Sudah terlanjur basah!” itupun kau baru menyadarinya saat kau sudah melewati pagar besi itu. Pagar besi yang berat dan berderit saat kau mencoba membukanya dengan hati-hati. Kau tak ingin mengejutkan siapa-siapa, siang itu.
Cuaca yang terik dan udara yang sedikit bertuba. Deretan kursi kosong pada lobby, daun-daun pada pot, seekor burung yang terkurung pada sangkar, meja dengan sebuah asbak yang tergeletak dengan dua puntung rokok dan tepat didepanmu, sekitar jarak satu depa lagi adalah pintu kayu yang tertutup denga sebuah lubang kunci.
Sepertinya lubang kunci itu bisa berbicara; “ayo mari masuk kemari dan temui dia saat itu juga!”
“Hahahahaha, kau jadi bimbang” seekor burung dalam sangkar seperti mengejekmu dengan bunyi cericaunya.
Dan.. “tap…tap…tap..tap…” kalau tidak salah itu bunyi langkah kaki seseorang, tengah menuruni tangga. Laki-laki itukah?
“Ah suara langkah kaki yang nyaris kukenali”, tapi laki-laki itu adalah seseorang yang gegabah. langkahnya tidak akan seteratur itu, seperti bunyi tuts-tuts pada piano, juga degup jantungku yang terkadang sampai bergema sampai di rongga kepalaku sendiri.”
“Hmm” sebilah belati di tangan kiri. Kau tak pernah melatih tangan kirimu untuk menikamkan belati itu pada apapun, kecuali rasa dendam kesumat yang membimbing tangan kirimu, lengan kirimu menjadi kuat. Sebilah belati di tangan kiri seperti menjelma menjadi jemari-jemari tangan kirimu sendiri, begitu enteng, begitu ringan, kau selipkan tepat segenggam, di balik kantong celana kirimu.”
“Taps.. taps…” suara langkah yang seperti setengah kaukenali, apakah sosok ia yang kau cari? Suara langkah itu semakin kentara, kini melibihi cericit seekor burung yang terkurung dalam sangkar, dan melebihi suara degup jantungmu sendiri.





Post a Comment