Skip to content

you and me

this clock never seemed so alive…. you and me - lifehouse

Jam yang tergantung pada dinding itu, telah lama jadi mati. Hari yang biasa, telah lewat dengan leluasa seperti berlepasnya angka-angka dalam kalender meja kerjamu, seperti juga daun-daun yang jatuh di bulan Juni pada deretan pepohonan di pinggir trotoir di kotaku. Aku kini pilih diam, seperti bisunya lampu-lampu merkuri di jelujur aspal kotaku dan menikmati diriku tengah mandi bayang-bayang–bulan di langit malam ini hampir bulan sempurna, dan aku bahagia tanpa sebab.
Bahwa aku membiarkan begitu saja hari-hari yang berlalu, tanpa makna, tanpa tercatat dalam kata ataupun ingatanmu, itu adalah ‘hal tak terelakkan!
“Mana yang lebih penting, pilihanmu atau pilihanku? atau kau tak memilih apa2?
“Setan alas, kau tak sepenting apapun! kau hanya ‘tahi lalat’ di dahiku yang mulai kulupakan-meski terkadang aku menemukannya saat aku sibuk bercermin.
Pada Hari-hari biasa yang berlepasan itu, aku merangkumnya dalam satu ‘potongan’ gambar : lalu lalang orang-orang yang berpapasan di trotoir dan perempatan-perempatan, wajah-wajah asing, terkadang saling memandang, tak menyapa, dan akupun tak ingin menyapa mereka,
“Hey, mengapa kau memandangku dengan sinis? Apa karena aku berbaju biru dan wajahku mirip pacarmu? ”
“GR kau!”
“Puh!”
Aku tak ingin menelisik urusanmu. Biar kudekap urusanku dan kaudekap urusanmu. Aku sudah disibukkan sendiri dengan urusanku yang setiap hari semakin bertumpuk.

Tetapi, Seperti pergantian senja menjadi malam, berangsur tak terasa sampai kita menjadi rabun dan tergantung pada cahaya-cahaya lampu. Aku meyakini kau pun juga mencatat hari dimana jam dinding yang tergantung pada dinding itu tiba-tiba mati. Yakni, sebuah pertemuan yang tak biasa. Pertemuan yang singat sesingkat usia kupu-kupu.
Selepasnya adalah, kau pamit undur ke sebuah negeri yang ditumbuhi gedung-gedung jangkung dan kehilangan pohon-pohon randu. Kita sama-sama disibukkan dengan kota kita masing-masing. Mencatat tiap jengkal jarak dengan pedih karena kehilangan orang-orang yang pernah kita sapa dengan muka tersenyum dan kepalan tangan persahabatan.
Pada Jam yang tergantung di dinding, kita mencatatnya: kau, aku, sofa berlubang dan percakapan yang ringan, dua gelas marquisa dan sekaleng biskuit murahan. Kau hampir tak menyentuh gelas marquisamu sepanjang percakapan itu…



Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*