I walked the avenue, ’til my legs felt like stone/ I heard the voices of friends/vanished and gone/ At night I could hear the blood in my veins/Black and whispering as the rain/On the Streets of Philadelphia
Ain’t no angel gonna greet me/ It’s just you and I my friend/ My clothes don’t fit me no more/ I walked a thousand miles/ Just to slip this skin ,
Bruce springteens
Ya, kubiarkan kedua kakiku merambah trotoir ini, seiring cahaya lampu dan sleretan-sleretan cahaya kendaraan yang lalu lalang? Dimanakah aku berada kini selain menempuh  lorong pikiranku sendiri?
Kehidupan bergerak pada jalan yang kulalui itu. Pedagang kaki lima, warung pecel lele, warung soto, orang-orang yang makan sambil bercakap-cakap tentang  perang, krisis ekonomi, pemilu yang mendekat, kekasih yang selingkuh dan chwa…cwa..cwa…, semua menderu bersama desing dinamo, roda-roda yang bergerak dan klakson motor yang tak sabar menelikung ke kiri di sebuah perempatan yang dipenuhi centang perentang billboard.
Hey, tersenyumkah kau padaku gadis manis bemata bulat dengan rambut hitam dan aroma metropolis?–sebuah billboard iklan notebook menggantung  persis di perempatan.
Tak berapa lama kedua kakiku mulai terbiasa merambah trotoir ini, tak berapa lama pula tanganku melenggang dengan enteng tanpa menenteng sebilah rokok yang menyala. Hari ini ngirit benar, pikirku. Tak merokok dan aku cukup menikmati kota dengan hirupan asap knalpot, wajah pengemudi bis yang lelah dan perempuan-perempuan dengan rambut berterbangan keluar dari sebuah mall. Perempuan-perempuan dengan pakaian perlente, blues, mini pants, hak tinggi, lipstik merona, eye shadow dan parfum yang menyengat bercampur dengan  keringat seharian penuh, adalah para penjaga toko. Seperti manekin di etalase, harus tersenyum, mengerdipkan mata, kalau perlu bibir yang merah basah bagai “Maukah kau beli bibirmu dengan isi dompetmu?” Tidak kataku. karena toh, aku tak punya dompet berisi uang, selain setumpuk kartu nama, KTP lusuh, Bon slip gaji dan sederet buku telepon. Yah… aku hidup dari jejaring buku telepon dan nama-nama itu.
Karena perempuan-perempuan etalase itu sudah keluar, jam dalam diriku memperingatkan ini sudah lepas 10 malam. Aku lebih percaya pada jam alami seperti itu. Kusebut ‘jam alami’ yang aku temukan di sekitarku: kokok ayam jantan muasal subuh sudah dekat, ibu-ibu pengemudi sepeda berangkat ke pasar pertanda  pagi belum jam 7 benar, anak-anak sekolah, perempuan-perempuan etalase, dan sebagainya.
Sudah lepas 10 berarti, dan kedua kakiku kaku serupa batu. Pada jalan yang membelah kotaku itu, malam itu, cahaya lampu-lampu, dan ingatan tentang kedua biji matamu yang indah, aku meluncur pulang.
selamat malam dunia





Post a Comment