Love Sick

I’m walking, through streets that are dead
Walking, /walking with you in my head
My feet are so tired /My brain is so wired…. love sick- Bob Dylan

20 km per jam kau mengayuh sepedaku di aspal penuh debu dan bercak-bercak tikus yang terlindas itu. Udara memanas dalam kantong paru-paru. Serasa sesak. 25 km per jam, jalan mendaki dan pada saat itu kau akan merasakan paru-paru panas, terbakar. Ada banyak hal berkecamuk di kepalamu, ada banyak hal bersahut-sahutan, saling berlomba-lomba seperti perlombaanmu dengan aspal jalan itu.

18 km, 15 km, kau mulai mengatur nafasmu yang tersengal-sengal. Keringat yang meleleh dan matahari meninggi hampir di atas kepalamu. Pada saat itu kepalamu tetap berkecamuk pada ingatan tentang dia.

Bookmark and Share

one day in your life

you’ll remember a place/Someone’s touching your face/You’ll come back and you’ll look around you…..Michael jackson

Kaupun menceritakan padaku tentang warna warni aura pada sebuah perjamuan makan sore hari itu. Kau pandang jendela yang terbuka, pada pohon asam, bangunan, pelataran dengan tanah berdebu dan batu-batu, kau bilang semua memiliki aura. Pohon itu punya aura, bahkan batu itu punya aura.

“Kenapa kau bisa tahu perempuan itu hamil?”, tanyaku masih heran ingatanku tentang kejadian beberapa saat lampau ketika ia tengah berpapasan dengan seorang perempuan, dan perempuan itu memang mengiyakan kehamilannya yang jalan 5 bulan.

Aura perempuan itu abu-abu, katamu. Abu-abu karena ia tengah mempertaruhkan separuh nyawanya pada bayi yang dikandungnya.

Apa aura pohon dan batu-batu, tanyaku padamu, masih menyimpan keherananku tentang aura. Bahkan kini aku menjadi kikuk sendiri dihadapan dia–Jangan-jangan ia tengah menangkap warna auraku.

Hmm, katamu. menhela nafas. “Saat kau menendang batu-batu itu, maka aura batu itu akan nampak menjadi hitam dari sebelumnya yang berwarna-warni. Aku bicara soal warna dominan. aura warna yang dominan. Pohon itu juga berwarna-warni, tapi kadangkala saat seseorang tengah menjamahnya, atau angin, atau kupu-kupu, perubahan warna menjadi menakjubkan. Manusia yang memberlakukan pohon itu dengan buruk, aura pohon itu akan berubah dominan menjadi hitam. Kau, manusia, punya aura yang bermacam-macam tergantung emosi dan apa yang tengah dipikirkannya. Saat kau berfikir keras, akan muncul aura hijau, tetapi saat kau sakit menjadi abu-abu, lalu saat kau berfikir tentang romantisme, cinta, seksualitas, maka yang muncul kadang merah, kadang mendekati jingga.

Aku hanya diam. turut memandang ke jendela, pada bangunan tua, batu-batu, pelataran dengan tanah berdebu dan langit sedikit mendung dan suara lantang kendaraan yang bergerak di aspal depan tempat perjamuan kami ini. Tak ada yang perlu ku pikirkan saat itu, hanya aku teringat sesuatu….

Ibuku meninggal saat aku SMP. Beberapa hari sebelum ibuku meninggal, kulihat wajah ibuku seperti berseri. Dalam pembaringannya di kasur rumah sakit yang berwarna putih dan korden-korden yang berwarna putih, aroma obat, tembok-tembok putih, kulihat wajah ibuku seperti 10 tahun lebih muda. Aku tak tahu apa warna aura, tetapi wajah yang berseri, lebih cantik dan nampak muda itu terekam benar dalam benakku sampai kini.

One day in your life/ someone touching your face/ you’ll come back and look around you…

Bookmark and Share

Lazy

From the flats and the maisonettes
they’re reminding us there’s things to be done.
But you and me, all we want to be is lazy,
you and me, so lazy…  –>suede

Maka kaupun mengangguk setuju tanda permufakatanmu bahwa hari ini kau merasa malas benar. Kau merasakan di udara kota Yog cuaca yang panas dan kau membayangkan tengah duduk-duduk di bawah pohon jambu.

“Hmm, sungguh nyaman sambil menyeruput segelas jus alpukat dingin dengan taburan coklat” tak terasa air liurmu meleleh.

Ini adalah jam 2.33, sudah hampir tiba waktu senja, dimana pada hari ini kau merasa akan ada banyak hal menghadangmu, hari yang sibuk.

Bookmark and Share

just like heaven

You /Soft and only/Lost and lonely

Strange as angels /Dancing in the deepest oceans
Twisting in the water /You’re just like a dream … the cure-just like heaven

Akhirnya kau mesti menyerah, pergi meninggalkanku setelah dokter mengoperasi Jantungmu! Dua kaki patah sudah berhasil diselamatkan, tetapi bagaimana dengan dua ginjal dan jantungmu yang nyaris hancur itu? Kau tak nampak pucat pada menit terakhir sebelum ajal menjemputmu. Pun aku tak menguasai pertanda pada ruangan itu: Ruangan kotak persegi dengan dinding putih, bilik-bilik berpenyekat kain putih, perawat-perawat berbaju putih, bunyi nafas tersenggal pada jalur-jalur selang oksigen, tabung-tabung, aroma infus, percakapan yang ditekan dan dirimu yang mencoba tersenyum.

“Ini sudah seperti surga, kawan” katamu pada sebuah buku yang kau tulis. Pada buku itu adalah amsal dirimu sendiri. Seorang diri pada sebuah pantai, pasir-pasir yang bergerak pelan, aroma garam, senja yang hampir tenggelam, camar camar yang bergerak ngungun, nyiur kelapa dan kedua tanganmu yang bersedeku seakan-akan kau adalah bagian dari ketenangan pantai itu.

Selamat jalan kawan, ke duniamu

Bookmark and Share

Streets of Philadelphia

I walked the avenue, ’til my legs felt like stone/ I heard the voices of friends/vanished and gone/ At night I could hear the blood in my veins/Black and whispering as the rain/On the Streets of Philadelphia

Ain’t no angel gonna greet me/ It’s just you and I my friend/ My clothes don’t fit me no more/ I walked a thousand miles/ Just to slip this skin ,

Bruce springteens

Ya, kubiarkan kedua kakiku merambah trotoir ini, seiring cahaya lampu dan sleretan-sleretan cahaya kendaraan yang lalu lalang? Dimanakah aku berada kini selain menempuh  lorong pikiranku sendiri?

Kehidupan bergerak pada jalan yang kulalui itu. Pedagang kaki lima, warung pecel lele, warung soto, orang-orang yang makan sambil bercakap-cakap tentang  perang, krisis ekonomi, pemilu yang mendekat, kekasih yang selingkuh dan chwa…cwa..cwa…, semua menderu bersama desing dinamo, roda-roda yang bergerak dan klakson motor yang tak sabar menelikung ke kiri di sebuah perempatan yang dipenuhi centang perentang billboard.

Hey, tersenyumkah kau padaku gadis manis bemata bulat dengan rambut hitam dan aroma metropolis?–sebuah billboard iklan notebook menggantung  persis di perempatan.

Tak berapa lama kedua kakiku mulai terbiasa merambah trotoir ini, tak berapa lama pula tanganku melenggang dengan enteng tanpa menenteng sebilah rokok yang menyala. Hari ini ngirit benar, pikirku. Tak merokok dan aku cukup menikmati kota dengan hirupan asap knalpot, wajah pengemudi bis yang lelah dan perempuan-perempuan dengan rambut berterbangan keluar dari sebuah mall. Perempuan-perempuan dengan pakaian perlente, blues, mini pants, hak tinggi, lipstik merona, eye shadow dan parfum yang menyengat bercampur dengan  keringat seharian penuh, adalah para penjaga toko. Seperti manekin di etalase, harus tersenyum, mengerdipkan mata, kalau perlu bibir yang merah basah bagai “Maukah kau beli bibirmu dengan isi dompetmu?” Tidak kataku. karena toh, aku tak punya dompet berisi uang, selain setumpuk kartu nama, KTP lusuh, Bon slip gaji dan sederet buku telepon. Yah… aku hidup dari jejaring buku telepon dan nama-nama itu.

Karena perempuan-perempuan etalase itu sudah keluar, jam dalam diriku memperingatkan ini sudah lepas 10 malam. Aku lebih percaya pada jam alami seperti itu. Kusebut ‘jam alami’ yang aku temukan di sekitarku: kokok ayam jantan muasal subuh sudah dekat, ibu-ibu pengemudi sepeda berangkat ke pasar pertanda  pagi belum jam 7 benar, anak-anak sekolah, perempuan-perempuan etalase, dan sebagainya.

Sudah lepas 10 berarti, dan kedua kakiku kaku serupa batu. Pada jalan yang membelah kotaku itu, malam itu, cahaya lampu-lampu, dan ingatan tentang kedua biji matamu yang indah, aku meluncur pulang.

selamat malam dunia

Bookmark and Share

Somewhere over the rainbow

Someday I’ll wish upon a star, Wake up where the clouds are far behind me/ Where trouble melts like lemon drops/High above the chimney top that’s where you’ll find me/ Oh, Somewhere over the rainbow way up high/And the dream that you dare to, why, oh why can’t I? I hiii ?… Israeli Kamakawi

Maka kamipun bermimpi tentang mimpi yang sama. Pada kedalaman dua buah bola matamu yang besar, bening, aku bisa melihat mimpimu; tentang anak-anak yang berlarian lincah di pematang bukit, diantara kelopak-kelopak bunga yang terbuka, burung-burung yang meluncur turun pada ngarai dan capung-capung yang melayang dengan manuver-manuver lincah.

Pada kedalaman kelopak matamu yang lain, akupun bermimpi yang sama; anak-anak yang berlarian lincah di lorong-lorong kota, pada pematang trotoir, bilboard dengan perempuan tersenyum, lampu-lampu flip-flop warna-warni, klakson dan spion yang menampilkan keriangan orang-orang di belakang kemudimu. 

Karenannya kita masih bermimpi saban hari. Saat kaututup pintu dan kututup pintu, saat kau selehkan sepasang sandalmu dan sepasang sandalku, pada ranjang yang berbeda, maka kitapun melanjutkan mimpi kita.

Kau bilang, seperti juga kubilang, kita memilih melanjutkan hidup kita karena kita sama-sama punya mimpi

Bookmark and Share

The Inner Light

Without going out of your door /You can know all things of earth/ With out looking out of your window /You could know the ways of heaven - The Beatles  

 

“Kenapa kamu ngendon disini?”, katamu di sebuah perbincangan di sore yang rembang di sebuah kebun di belakang rumah, sebuah meja lebar, aroma kopi, bangku panjang, suara angin yang mendesah pelan, gesekan daun dan seekor tokek yang mengetuk-ketuk dengan tenangnya.

 

“Tok…. kek…” aku menunggu suara tokek itu sampai selesai, tapi sepertinya binatang melata yang menempel dan menghuni plafon bak mandi di rumah itu tak akan berhenti sampai disitu.

 

Sepertinya tokek itu tahu bahwa diriku tengah berfikir untuk menemukan jawaban paling pas dan binatang melata yang menempel pada plafon bak mandi yang setiap pagi menyisahkan setumpuk kotoran di pojok kamar mandi itu tengah memberikanku ketukan waktu! Waktu dan perhitungan, antara ya dan tidak! Tetapi saat ini aku tidak tengah mencari jawaban ya dan tidak, tetapi sebuah alasan. Sebuah alasan yang panjang yang setidaknya bisa dimengerti oleh percakapan di sebuah kebun di belakang rumah itu. 

 

“Tok… kek… tok… kek…” Akhinya berangsur suara binatang itu lenyap. Dan yang pasti hanya untuk sesaat.  Selebihnya aku harus mengisi perbincangan di belakang kebun itu kembali. Alih-alih membicarakan soal tokek? Hmm, tapi aku sudah setidaknya mengulangi perbincangan tentang tokek lebih dari 2 kali. Dan ia masih saja tertawa.

 

“Kenapa tokek itu ngendon di kamar mandi itu?” Kataku, memulai lagi perbincangan soal tokek untuk kesekian kali.

 

Ya, mungkin ia betah disana katamu. Mungkin pula memang seseorang sengaja membiarkannya di sana, toh tak ada yang berani membunuh tokek itu. Mungkin pula seseorang pernah mencoba mengusir tokek itu, tetapi tokek yang sama atau tokek yang lain datang lagi ke tempat yang sama. Tak ada yang tau pasti bagaimana tokek itu memilih tempat itu, mengapa tidak memilih pojok plafon yang lain? Mengapa harus kamar mandi yang pengap dengan sedikit cahaya? Apakah Tokek itu suka melihat tubuh-tubuh manusia yang telanjang, bugil bulat? Akupun mulai menjawab dengan asal pertanyaanmu. Aku ngendon disini karena aku suka pada kotak kehidupanku yang pengap ini. Bagiku tidak pergi kemanapun bukan berarti aku tidak pergi kemana-mana. Aku mendengar orang-orang dari luar kota datang, berkunjung dan bercerita tentang kotak-kotak kehidupan yang lain, kota-kota yang lain, ladang-ladang, kebun-kebun, sunga-sungai, luas-luas lautan, gurun-gurun, gua-gua dan perang! Mengapa perang masih saja terjadi?

 

Yah, cukuplah bagiku untuk saat ini, menjadi tokek yang ngendon di tempat ini, mendengarkan orang-orang mampir di kamar mandi itu, bertelanjang bulat, bersiul-siul dan kadang-kadang melakukan sesuatu yang mereka pikir bahwa tak ada seseorang pun yang melihatnya. Hahahhahahaaa….  

 

Ya, di ruangan ini, tanpa perlu melompati bingkai  jendela, tanpa perlu melangkah keluar melewati daun pintu, kita bisa menuju kesana.

Bookmark and Share

radiohead

Bookmark and Share

Indoor Fireworks

We play these parlour games/ We play at make believe/ When we get to the part where I say that I’m going to leave/ Everybody loves a happy ending but we don’t even try/ We go straight past pretending/ To the part where everybody loves to cry….Indoor fireworks-Elvis Costello

Teleponku berdering, tapi awas jangan diangkat. Kau yang pernah dengan sengaja diam-diam membuka phonebook ku, membuka kotak masuk dan panggilan terakhir padaku. Betapa curiganya kau padaku? Dua buah bulir matamu, hitam bulat, berkaca-kaca dibalik lensa kacamata?

Kita tengah duduk di kursi masing-masing, tidak berlapis beledru, tidak di sebuah lobby dengan diorama kota, orang-orang yang bergegas, supir truk sampah, ibu-ibu pengayuh sepeda yang kau bilang terlalu eksotik untuk dinyatakan sebagai kehidupan nyata di tengah ruang kota yang hiruk pikuk, pengendara-pengendara motor dan pejalan kaki yang melangkah secepat mungkin menghindari seseorang yang melintas mengenali.

Di tahun yang sama, pada jam yang berdentang 8 kali, pada cuaca teduh sehabis hujan, pada trotori yang langket oleh aroma jejak jejak sepatu, kita bercengkrama tentang sebuah harapan di tahun yang akan datang.

“Bah, aku bosan tak ada pasti”, katamu

Baiklah, kita pulang saja dan membatalkan semua rencana

Bookmark and Share

Spirit on the water

Spirit on the water /Darkness on the face of the deep /I keep thinking about you baby /I can’t hardly sleep // bob dylan

Air muka air kolam jiwa adalah air mukaku, disitu ada aku. Ribuan ikan yang bergerak dengan lincah. pagi yang merayap pada pucuk-pucuk pohon, dan seekor katak yang meloncat pada ujung batu…. “clup”

Ketenangan disini seperti membekas bertahun-tahun, menyelimuti tiap sudut seperti lumut-lumut di dinding kolam itu yang menempel, menumpuk lambat laun menjadi beludru hijau.

Kadangkala sebuah daun tua gugur, satu duaa…. “thesss” jatuh pada raut muka tenang air kolam itu, lalu membentuk lingkaran-lingkaran gelombang yang berpendar sampai menjauh dan mengecil dan sirna di dinding-dnding kolam yang penuh lumut seperti beludru.

Tumpukan batu seperti pertapa dengan ketenangannya yang dasyat, tak bergeming puluhan tahun. Siapa sangka batu seperti pertapa itu dulunya adalah seorang laki-laki yang durhaka dengan ibunya dan dikutuk menjadi batu?

Aku, air kolam jiwaku, kadangkala ribuan ikan yang bergerak dengan lincahnya, berkilat-kilat pada kelopak cahaya pagi itu berubah menjadi keruh, kecoklatan dan tak nampak sampai kedasarnya ketika air koka m jwaku tiba tiba dibanjiri oleh gelontoran air sungai yang berwarna kecoklatan. Lumpur!

Jauh di sana, dari air kolam yang tenang itu banjir telah membawa lumpur yang kecoklatan, kadang gelap, kental seperti coklat. Pada saat seperti itu ribuan ikan yang bergerak lincah, binal dan berloncat-loncatan itu memilih sembunyi di dasar-dasar batu.

Sebenarnya apa yang sedang kupikirkan saat ini? dirimukah? karena tetap saja pada air kolam yang bergelak kecoklatan itu masih tetap terbaca bayangan dirimu.Kurang ajar!

Bookmark and Share

Spirit of radio

Begin the day/ With a friendly voice/A companion, unobtrusive/Plays that song that’s so elusive/And the magic music makes your morning mood…Rush-Spirit of Radio
Yups. Kami bangkit lagi dari mimpi, aku kau dan bayang-bayang dan tidur yang aneh dan bermimpi tentang dirimu. Hmmm, aku tak mau mengingatnya secara detil karena kepalaku yang pening. Di pelataran adalah tanah basah, ruap sisa hujan, genangan air dan laron-laron yang telat pulang ke sarang-kelopak-kelopak sayapnya ada yang plontos, tertanggal di tanah dan menyisakan jejak, seperti telah terjadi pesta kawanan laron semalam. Kopi pagi! dan aku panik seperti juga kau panik seketika kalau tak ada kopi pagi, Hmm, ndak ada air panas! Kami berjalan gontai, aku kau dan bayang-bayang menuju dapur kecil di ujung rumah ini. Kompor minyak yang mengering–tak tersisa minyak tanah sedikitpun disana. BAh! Kini minyak tanah mahal dan kalaupun aku tak membeli minyak tanah, tak ada orang lainpun yang membeli minyak tanah. Di kotak rumah ini, tempat kami, aku kau dan bayang-bayang juga tiga laki-laki lain, seorang perempuan dan dua ekor kucing yang pemalas yang saban hari bisa ditemukan tengah tidur melingkar di pojok ruang, tak ada yang peduli pada kompor minyak itu selain diriku. Hmmm, berfikir cepat! bagaimana mendapatkan air panas yang berarti sebuah kopi panas mengepup-kepul yang aroma nya selalu mengikuti kemanapun kami pergi. Dispenser! Sebuah dispenser dengan sisa air tinggal setengah galon. Aku mencolokkan dispenser diam-diam. Yah, karena kalau ada seorang laki-laki penghuni rumah ini tau kalau aku menghidupkan dispenser, aku akan dimarahinya. Listrik Mahal! jangan nyalakan dispenser sembarangan! Bah. Seorang lelaki penghuni rumah ini-rambut ikal gondrong, kulit legam, dua mata bulat,  bibir tebal, masih tertidur mendengkur pada lubang kamarnya! Haaa, berarti kami aman untuk menghidupkan despenser. Masih 5 menit sebelum air pada dispenser, akan berdesis tanda mendidih dan aku sudah tak sabar menunggu–aroma kopi yang mengepul-kepul itu seperti mengikutiku, mengejek-ngejekiku untuk sesegera mungkin mengikutinya, meruapinya, meneguknya sampai licin tandas. Dikepalaku, secangkir kopi, kini menari-nari bersama beraroma ‘black mocca’ dengan sedikit gula’. Dikepalaku pula Nielpert menghentak-hentakkan kaki dan tanganya pada rentetan set drum, Alex Lifeson memetik metik gitarnya, Gaddy memainkan fender guitar bass nya.  Aku teguk lagi sisa kopi sampai hampir habis. Pagi beranjak dan kami sepertinya kesasar entah dimana.

Bookmark and Share

Trying to throw your arm

Sunrise like a nosebleed / Your head hurts and you can’t breathe / How far you gonna go? / Before you lose your way back home / You’ve been tryin’ to throw your arms / Around the world.. Bono, U2

Hanya sejauh pintu kau melangkah, itupun masih satu depa lagi sebelum tanganmu bisa meraih gagang pintu itu. Ada rasa yang berkecamuk pada dirimu, serupa badai, sebagian dirimu adalah perasaan pengecut ‘ sebaiknya aku urung diri saja! membalikkan langkah kakiku dan menjauh menuju jalan setapak itu dan melupakan hari ini sebagai ‘hari yang buruk untuk diingat’

Tapi sebagian dari dirimu adalah dorongan untuk berani. Apalagi, kesempatan mungkin tak datang dua kali. Bahkan kau sudah melangkah sampai sejauh ini. Sudah melewati gerbang yang berpagar besi pada rumah itu dan tinggal sedepa lagi agar tanganmu bisa meraih gagang pintu itu atau mengetuknya.

Pintu kayu yang tertutup rapat. Kau hanya bisa membayangkan ada seseorang yang kau cari disana, mungkin tengah menunggumu atau mungkin tengah menunggu ketukan pintu dari seseorang yang kau kenal.

‘Hmmm, apakah aku perlu mengintipnya dulu dari sebuah celah sempit kunci pintu itu?”

“Perbuatan tolol’, katamu sendiri

“Sudah terlanjur basah!” itupun kau baru menyadarinya saat kau sudah melewati pagar besi itu. Pagar besi yang berat dan berderit saat kau mencoba membukanya dengan hati-hati. Kau tak ingin mengejutkan siapa-siapa, siang itu.

Cuaca yang terik dan udara yang sedikit bertuba. Deretan kursi kosong pada lobby, daun-daun pada pot, seekor burung yang terkurung pada sangkar, meja dengan sebuah asbak yang tergeletak dengan dua puntung rokok dan tepat didepanmu, sekitar jarak satu depa lagi adalah pintu kayu yang tertutup denga sebuah lubang kunci.

Sepertinya lubang kunci itu bisa berbicara; “ayo mari masuk kemari dan temui dia saat itu juga!”

“Hahahahaha, kau jadi bimbang” seekor burung dalam sangkar seperti mengejekmu dengan bunyi cericaunya.

Dan.. “tap…tap…tap..tap…” kalau tidak salah itu bunyi langkah kaki seseorang, tengah menuruni tangga. Laki-laki itukah?

“Ah suara langkah kaki yang nyaris kukenali”, tapi laki-laki itu adalah seseorang yang gegabah. langkahnya tidak akan seteratur itu, seperti bunyi tuts-tuts pada piano, juga degup jantungku yang terkadang sampai bergema sampai di rongga kepalaku sendiri.”

“Hmm” sebilah belati di tangan kiri. Kau tak pernah melatih tangan kirimu untuk menikamkan belati itu pada apapun, kecuali rasa dendam kesumat yang membimbing tangan kirimu, lengan kirimu menjadi kuat. Sebilah belati di tangan kiri seperti menjelma menjadi jemari-jemari tangan kirimu sendiri, begitu enteng, begitu ringan, kau selipkan tepat segenggam, di balik kantong celana kirimu.”

“Taps.. taps…” suara langkah yang seperti setengah kaukenali, apakah sosok ia yang kau cari? Suara langkah itu semakin kentara, kini melibihi cericit seekor burung yang terkurung dalam sangkar, dan melebihi suara degup jantungmu sendiri.

Bookmark and Share

miracle drug

I want to trip inside your head / Spend the day there…
To hear the things you haven’t said / And see what you might see …Miracle drug, Bono-U2

Aku ingin memasuki rongga kepalamu, berjalan-jalan disana, menghabiskan waktuku di sana, mendenger, meraba, melihat apa yang kau rasakan…

Lorong itu berujung pada cahaya. Cahaya yang nampak agak kebiru-biruan. Tak ada cahaya lampu, hanya lorong lurus kaku. Aku melangkah dengan hati-hati. tetapi tak ada jalan lain selain memasukinya. Sudah terlanjur, dan kalau membalik adalah sebuah lorong yang lain, tapi berujung pada labyrin yang gelap dan lembab. Maka aku masuki lorong dengan ujung cahaya kebiru-biruan, dan semoga ini hanya mimpi.

Aku terbangun dari mimpiku…

Lorong itu hanya mimpi, pas saat aku berusaha dengan setengah lari sekuat tenaga menuju ujung lorong itu, tak kudapatkan apa-apa, aku tak pernah sampai. Aku terengah-engah…

Aku bangun dengan tubuh berkeringat, mungkin roman mukaku pucat saat itu. Seekor tubuh terjerembab dalam kasur dengan sperai berbau apak. Aku seperti seekor kecoa yang tubuhnya terbalik, tak bisa membalikkan tubuhku. Aku hanya bisa menggerak-gerakkan kedua kakiku sampai aku letih sendiri. Seekor kecoa yang malang…

Langit-langit kamar dan plafon yang dijangkiti sarang laba-laba. Sudah berapa lamakah aku menghuni kamar ini? semalam, dua malam, setahun, dua tahun, ah aku tak mengingatnya lagi…

Ada bunyi tuts pada mobile phone. Ada 5 kali panggilan tak terjawab, 3 pesan singkat.

“Tuts’.. tut’s…tuts’…” Sebuah tanganku meraba-raba di sekitar kasur. Kecoa yang malang. Kecoa yang malang yang hanya bisa menggerakkan kaki-kakinya ke keudara, ke arah langit-langit dan plafon yang dijangkiti sarang laba-laba.

Hmm, dimanakah kau nokia mobile phone keluaran tahun 2000an yang hanya bisa merekam 200 memori book dan menuliskan seorang nama dengan inisal ‘Inem’.

Ada tiga pesan pendek “Inem, Inem, Inem…” Ah perempuan itu hanya bisa memberikanku sebuah pesan pendek? Seberepa pentingngkah seekor kecoa ini bagimu Inem?”

Masih dengan terengah-engah, terlintas lagi mimpiku. Lorong yang panjang yang berujung pada cahaya kebiru-biruan. Sebuah kapsul tergeletak di bekas bungkus obat Flu.  Ya, aku sudah merasa baikkan sekarang, setelah meminum sebutir kapsul obat flu, tertidur sesaat dengan mimpi yang aneh, dan menerima 3 pesan singkatmu.

Persetan!

Bookmark and Share

KOKA KOLA

Elevator! Going up! / In the gleaming corridors of the 51st floor / The money can be made if you really want some more / Executive decision-a clinical precision / I get good advice from the advertising world / Treat me nice says the party girl / Koke adds life where there isn’t any / So freeze, man, freeze (The class-koka kola)

Aku memasuki sebuah bangunan jangkung dengan lobby warna abu-abu, sofa-sofa yang tertata rapi, poster ‘Do it Your Self’, orang-orang berpakaian perlente, perempuan-perempuan dengan celana panjang dengan dan setelan blues. Sebuah Elevator menantiku di ujung lobby, konon tak ada lantai ke 13, yang ada hanya loncatan dari 12 langsung ke 14. Jarak antara ujung lobby yang dipenuhi cahaya lampu dan simplicity, adalah sekitar 15 meter, kira-kira 20 langkah ayunan kaki dan akan mencapai padai karpet besar warna merah gelap bertuliskan ‘Welcome!’.

Hmm, lantai 51 telah menantiku, dan deretan tombol tombol pada pigura pintu elevator menyala berurutan 51, 50, 49…… 14, 12, 11, 10, 9…3, 2, 1…dan sreeet! Cling! pintu itu membuka. Sliding Doors!

Keluarlah dari sana wajah-wajah asing, orang-orang dengan kemeja, blues tas-tas berkas, rambut yang tertata rapi, sepatu-sepatu hitam yang mengkilat! Hey itu sepatu dari kulit buaya!

Diantar gerombolan yang menggumpal pada kotak sempit elevator yang pintunya tengah membuka itu, kira-kira ada 5 sosok laki-laki, 4 sosok perempuan dan seorang perempuan yang memenuhi perhatianku.

De Javu! Perempuan dengan Long blues coklat, menutupi T-shirt warna pink, Dark brown jeans, simple glasess yang menutupi dua kelopak mata hitam, dan lipstik yang merona… Hey Pernahkah kita bertemu pada suatu waktu?

Kau tak menjawab selain menatapku tak sengaja ‘beberapa detik’ yang dasyat diantara orang-orang yang menggumpal pada kotak elevator yang tengah membuka.

3, 2, 1… cling! Pintu elevator yang lain juga membuka. Dan sepersikan menit yang dasyat itu telah berlalu. Aku harus mematahkan rokokku yang masih separoh pada recycle bin yang mirip tabung oksigen! Ayoh berangkat pada lantai 51!

It’s the pause that refreshes in the corridors of power / When top men need a top up long before the happy hour /Your snakeskin suit and your alligator boot / You won’t need a launderette, you can send them to the vet! /I get my advice from the advertising world / Treat me nice says the party girl / Koke adds life where there isn’t any /So freeze, man, freeze / Koka Kola advertising and kokaine /Strolling down the Broadway in the rain / Neon light sign says it /I read it in the paper-they’re crazy! / Suit your life, maybe so / In the White House-I know / All Over Berlin (they’ve been doing it for years) / And in Manhattan!

Ah, Adpertensi. Kenapa aku pula termakan adpertensi?

Lantai lift bergerak merangkak ke atas menapaki level demi level bangunan jangkung ini. Aku bisa merasakannya karena lorong lift adalah lapisan kaca dengan landscape kota Yog di kejauhan. Dari jauh persis pada landscape yang tersaji padaku sebuah jalan beraspal lebar dengan tumpukan mobil mobil yang menyemut. Aku tau itu adalah perempatan kota Yog, sebuah adpertensi raksasa bergambar perempuan dengan rambut panjang.

Coming through the door is a snub nose 44 / What the barrel can’t snort it can spatter on the floor / Your eyeballs feel like pinballs /And your tongue feels like a fish / You’re leaping from the windows-saying don’t / Ayaiiiiirrrghhh! *@!!*@!!*! / Don’t give me none of this!

I get good advice from the advertising world / Treat me nice says the party girl / Koke adds life where there isn’t any / So freeze, man, freeze / Hit the deck!

Sebenarnya aku tak bermaksud mempercayaimu. Iklan itu. Tapi aku pura-pura saja, seperti pada suatu kali tengah berhenti di perempatan itu, aku menemuimu: perempuan dengan lipstik, dark and long hair, black leather coat, bulu mata lentik dan imajinasi tentang ‘biar kuhapus bekas bibirmu dengan bibirmu’.

Hey bagaimana kalau iklan itu bergambar Paijo saja, atau samat saja?

Landscape kota yog mengecil dan mengecil, kemudian menjadi sebuah bidang mirip papan sirkuit PCB! Ah dunia mekanis. Semua yang dibangun manusia pada dasarnya sama. Kotak, bundar lengkung…..

48, 49, 50, 51, ‘Cling’ Elevator berhenti pada angka 51, sesaat lagi aku akan bertemu dengan perempuan itu: Dark hari, sorot mata tajam dan penuh selidik….

Bookmark and Share

The Way

They made up their minds/ And they started packing/ They left before the sun came up that day/ An exit to eternal summer slacking But where were they going/ Without ever knowing the way? …Fastball

Hmm, Kami berempat aku, kau dan dua ekor bayang-bayang yang mengikuti aku dan kau dari belakang. Berjalan pelan membelah jalan yang telah sepi, cahaya lampu merkuri dan aspal yang penuh dengan bercak-bercak tikus yang mati terlindas hingga perutnya membuncah. Hmm, kau hampir menginjakinya seekor.

Kemana aku kau dan dua ekor bayang bayang itu akan menuju? ke sebuah rumah kah? dengan tempat tidur yang nyaman dan percakapan ringan?

Ndak! Aku ingin menikmati malam ini, katamu!

Maka aku, dan dua ekor bayang-bayang yang setia mengikuti aku dan kau mengangguk setuju.

Ini malam, kota tak berubah. Penuh dengan gedung-gedung jangkung, gelandangan yang tidur dengan gumpalan-gumpalan kardus, para penjaja warung yang tengah beringsut pulang, petugas kebersihan yang mulai bekerja menarik gerobak sampah dan mengayunkan sapu, dan lampu-lampu  yang menyala.

Bah, Tapi aku mulai digigiti nyamuk! Perutku mual pula! Katamu, dan bayang-bayang yang mengikutkan ekspresi dengan menekan perutnya.

Dasar manja!

Dingin telah merasuk pada sunsum, juga pada urat-urat di kepala. Pada tubuhmu adalah Sweater coklat panjang (aku selalu suka memandangmu dengan kostum itu seperti halnya kau suka memakainya diantara deretan kostumu yang lain), dengan Blue jeans, sepasang sandal…

Baik-baik! Kita mampir ke Burjo saja!

Di kotaku ada deretan warung malam. Di kotaku pula, deretan warung malam itu dipenuhi orang-orang malam yang tiap malam insomnia. memenuhi bangku-bangku kayu panjang di warung-warung Burjo atau di warung angkring, menghabiskan berbatang-batang rokok, teh, kopi dan gorengan dan rentetan percakapan tentang ‘Malam yang busuk’ tetapi mereka menyukainya!

Hmm, Aku, kau dan dua ekor bayang-bayang kini melangkah ke sebuah warung borjo berwarna pucat pasi di ujung lorong kota Yog, temaram lampu merkuri, seekor tikus yang menyembul dari got, dan tiang-tiang listrik yang melai mengembun.

Setidaknya aku, kau dan dua ekor bayang-bayang yang mengikuti kami kini punya tujuan.

Ayoh! kesana!

Bookmark and Share

trying to throw your arms!!s

Sunrise like a nosebleed

Your head hurts and you can’t breathe

How far you gonna go?  …..(trying to throw your arms - U2)

 

Horrayy! Aku berteriak dengan lantang meneriakkan kebebasanku. Seperti rokok dan kopi yang kutuang, menghirupnya adalah kehidupan yang menantangku hari ini. Jadilah aku sesuatu hari ini! mungkin seekor kupu-kupu yang berdengung dan hinggap dikepalamu, atau mungkin sebuah batu yang diam tepekur menghitung satu demi satu kata yang jatuh dari mulutmu.

Hmm, seberapa jauh kau melangkah menjauhiku, seberapa jauh pula kau telah mendekatiku. Sedepa, dua depa, tiga depa! Braaakkkkk! Ciluuuub bbaaaa! Aku yang mengagetkamu pada lembaran buku-buku. Aku yang mengagetkanmu pada pendar demi pendar mozzila fire fox yang kau buka! Hahahahahahaha!

Bookmark and Share

The Best Damn Thing

I’m the best damn thing that your eyes have
ever seen!
Avril lavigne

Dsc_0206_small

Kami berenam, kau, aku dia dan keempat kawan lagi dan seorang laki-laki paruh baya. Kami berjalan diantara pokok-pokok akar bakau, setapak tanah yang penuh dengan ilalang. Seseorang pernah berkata dari rerimbun semak itu sewaktu-waktu seekor ular berbisa bisa meluncur. Ia akan melenting ke arahmu dan kalau kau tidak segera ditolong, dalam hitungan detik kau sudah tak bernyawa lagi.
Sepanjang perjalanan, kami berenam, aku kau dia dan keempat kawan lagi dan seorang laki-laki paruh baya tak benyak bercakap. Kami memang mengurangi percakapan, karena bagiku, dia dan keempat kawan lagi, kami tengah menikmati percakapan di ruang pikiran kami masing-masing.
Hmm, akhirnya kami sampai pada pinggir pantai. Sebuah pantai dengan landskape pulau-pulau kecil, puluhan burung-burung migran yang berterbangan dan perahu-perahu yang berlayar di kejauhan.
“The Best Damn Thing”, Katanya, katamu, dan kata dia
Tak ada yang lebih takjub dari aku, kau dia dan keempat kawan lain saat memasuki pinggiran pantai itu. Kami membuka percakapan lagi tentang ‘benarkah kita berdiri disini?’ Aku, kau, dia dan keempat kawan lain mencoba merekamnya. Hamparan pasir putih, aroma garam dan ribuan pasang ikan yang berkilatan.
“The Best Damn Thing”, Katanya dan katamu dan kata dia.
“Siapakah maksudmu?
“Pokoknya the best damn Thing”!
Makin lama aku makin bingung saja…..

Bookmark and Share

you and me

this clock never seemed so alive…. you and me - lifehouse

Jam yang tergantung pada dinding itu, telah lama jadi mati. Hari yang biasa, telah lewat dengan leluasa seperti berlepasnya angka-angka dalam kalender meja kerjamu, seperti juga daun-daun yang jatuh di bulan Juni pada deretan pepohonan di pinggir trotoir di kotaku. Aku kini pilih diam, seperti bisunya lampu-lampu merkuri di jelujur aspal kotaku dan menikmati diriku tengah mandi bayang-bayang–bulan di langit malam ini hampir bulan sempurna, dan aku bahagia tanpa sebab.
Bahwa aku membiarkan begitu saja hari-hari yang berlalu, tanpa makna, tanpa tercatat dalam kata ataupun ingatanmu, itu adalah ‘hal tak terelakkan!
“Mana yang lebih penting, pilihanmu atau pilihanku? atau kau tak memilih apa2?
“Setan alas, kau tak sepenting apapun! kau hanya ‘tahi lalat’ di dahiku yang mulai kulupakan-meski terkadang aku menemukannya saat aku sibuk bercermin.
Pada Hari-hari biasa yang berlepasan itu, aku merangkumnya dalam satu ‘potongan’ gambar : lalu lalang orang-orang yang berpapasan di trotoir dan perempatan-perempatan, wajah-wajah asing, terkadang saling memandang, tak menyapa, dan akupun tak ingin menyapa mereka,
“Hey, mengapa kau memandangku dengan sinis? Apa karena aku berbaju biru dan wajahku mirip pacarmu? ”
“GR kau!”
“Puh!”
Aku tak ingin menelisik urusanmu. Biar kudekap urusanku dan kaudekap urusanmu. Aku sudah disibukkan sendiri dengan urusanku yang setiap hari semakin bertumpuk.

Tetapi, Seperti pergantian senja menjadi malam, berangsur tak terasa sampai kita menjadi rabun dan tergantung pada cahaya-cahaya lampu. Aku meyakini kau pun juga mencatat hari dimana jam dinding yang tergantung pada dinding itu tiba-tiba mati. Yakni, sebuah pertemuan yang tak biasa. Pertemuan yang singat sesingkat usia kupu-kupu.
Selepasnya adalah, kau pamit undur ke sebuah negeri yang ditumbuhi gedung-gedung jangkung dan kehilangan pohon-pohon randu. Kita sama-sama disibukkan dengan kota kita masing-masing. Mencatat tiap jengkal jarak dengan pedih karena kehilangan orang-orang yang pernah kita sapa dengan muka tersenyum dan kepalan tangan persahabatan.
Pada Jam yang tergantung di dinding, kita mencatatnya: kau, aku, sofa berlubang dan percakapan yang ringan, dua gelas marquisa dan sekaleng biskuit murahan. Kau hampir tak menyentuh gelas marquisamu sepanjang percakapan itu…

Bookmark and Share

kite

It’s somewhere I can taste the salty sea,…. kite-U2

Seperti layang-layang aku dikendalikan arah angin. Kali ini aku ditiupnya menuju ke utara. Menuju pada rerombongan orang-orang dan percakapan yang melelahkan.
“Kapan?”
“Kapan-kapan lah?
“Kapan pastinya? ini adalah dunia material! semuanya bisa diukur secara matematis!”
” Itu katamu, Su”
“Lho kamu tak nasehati blah ngeyel! Cuk!”
Hah! sekarang kau sudah pandai bersilat lidah. Berani menyebut aku dengan Cuk! Emang lu siapa!

Bookmark and Share

Moon shadow

if I have to lose my eyes’ I wouldn’t have to cry no more… moon shadow by cat steven

Dan pada malam yang kesekian kalinya aku memandangi bulan. kesekian kali pulalah aku tak pernah bosan memandanginya. Kami terkadang bercakap cakap seperti dua orang sahabat dengan percakapan-percakapan yang hanya bisa kami mengerti. Di seliling kami adalah udara malam yang bergerak pelan, menggeser dahan-dahan dan menggetarkan binatang-binatang kecil. Aku bisa beralama-lama disini bersama percakapan dengan sahabatku ini. Karena sebentar lagi ia juga akan pergi….

Bookmark and Share

Next Page »